Kamis, 19 Februari 2015

Misconseption of You



Sepi, canggung, kaku
Semua bercampur menjadi satu
Yang hangat menjadi dingin,
Yang lekat menkadi renggang
Jika dulu ada senyuman yang mengiringi pertemuan
Kini hanya ada wajah datar tanpa emosi
Sunyi,
Tak ada canda dan tawa seperti biasa
Canggung,
Kedekatan yang pernah terjalin bak debu ditiup angin
Hilang tak berbekas
Lenyap tak bersisa
meninggalkan rasa penyesalan yang mergumul di dada
Sesak,
Tapi apa daya
Keegoisan mulai mendominasi
Mengaburkan kesedihan dibalik datarnya wajah
Menyembunyikan tangikan dibalik seringaian
Rasanya sakit melihatmu bersedih
Rasanya sesak melihatmu kesepian
Satu-satunya orang yang membuatku menderita adalah aku
Yang mengurungmu dalam ruang kehampaan adalah aku
Yang mendorongmu kedalam jurang kesedihan adalah aku
Yang memenuhi otakmu dengan berbagai pertanyaan adalah aku
Aku yang telah berubah menjadi iblis
Aku yang berubah menjadi monster
Aku yang menyiksa sahabatku sendiri
Aku memang kejam, aku terima itu
Tapi apakah kau tahu?
Ada seseorang yang sering kau siksa
Kau biarkan sendiri
Kau menelantarkan orang selalu ada disampingmu
Orang secara tak langsung adalah tangan kananmu
Kau adalah orang terbodoh di dunia
Kau mengejar iblis dan menginggalkan malaikat
Kau mengambil seonggak batu dan membuang berlian
Adakah yang salah denganmu?
Ya, hatimu sekeras batu
Cermin persepsimu yang retak
Dan kau yang tak memiliki pijakan
Kau tak pernah membuka hatimu untuk orang yang peduli padamu
Dan menyerahkannya pada orang yang menelantarkanmu
Kau mengharapkan orang yang mencampakkanmu
Dan meninggalkan orang yang mengharapkanmu
Kau bodoh, kau idiot
Kau keliru menilai mana hitam dan putih
Kau keliru menilai apa itu jernih apa itu keruh
Kau keliru membedakan keduanya
Dan tanpa sadar kau telah dibodohi sepenuhnya

Kamis, 29 Januari 2015

Footsteps



Tap... Tap... Tap...

Suara langkah kaki menggema dilorong yang sepi. Langkahnya begitu teratur, dan tenang. Tak jauh beda dengan sang empunya yang tengah tenggelam dalam buku tebal yang dibacanya. Dia Kevin Wu, anak yang memegang peringkat satu secara marathon di sekolahnya. Dia juga baik, dan ramah tipikal murid teladan yang tersohor dikalangan guru dan siswa.

Tap... Tap... Tap.

Kevin menghentikan langkah kakinya, matanya mengawasi setiap sudut lorong dengan awas. Entah kenapa, ia merasa seperti ada yang mengawasinya. Saat ini tepat pukul 5 sore, lorong tempatnya berdiri sudah sangat sepi dan agak gelap. Tak ada siapapun disana selain dirinya. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya, kali ini lebih cepat dan agak tergesa. Sebenarnya ia tak tahu mengapa ia harus mempercepat langkahnya, ia bukanlah tipe anak penakut yang akan berlari sekuat tenaga setiap melewati lorong sepi dan gelap. Tapi kali ini hatinya menjerit kalau ia harus segera keluar dari sini.

Dan kali ini ia mendengarnya, mendengar suara langkah kaki. Bukan, itu bukan miliknya. Langkah itu lebih tenang, jauh berbeda dengan langkahnya yang terburu-buru. Dan sialnya, suara langkah kaki itu membuatnya tak berani menoleh kebelakang. Ia terlalu takut untuk menyadari bahwa indra pendengarannya masih berfungsi dengan baik, dan ada seseorang yang sedang menguntitnya sekarang. Lalu, ia mengikuti instingnya untuk mempercepat langkahnya. Kali ini setengah berlari. Dengan cepat ia berkelok ke arah tangga, dan dengan cepat pula tubuhnya membentur ujung anak tangga yang runcing.


Saat ini Kevin sudah berada didasar tangga. Sekarat dan berlumuran darah. Kemungkinan besar, tengkoraknya retak saat membentur anak tangga besi itu. Tangga itu landai, dan bisa saja tulang-tulangnya patah saat dia meluncur ke bawah. Yah, kecil kemungkinan ia bisa bertahan hidup dengan kondisi seperti itu. Ternyata menyiram tangga dengan sabun pembersih lantai dan mengawasi anak sialan itu sekarat bukan hal yang buruk. Yah, kali ini aku bisa mendapatkan peringkat pertama dengan mudah dan aku dapat tidur dengan tenang.

created by: symptoms26
Posted By: Unknown

Footsteps

Selasa, 27 Januari 2015

Rain

created by: symptoms26

Langit hitam kelam
Memancarkan aura kesuraman
Gelap yang tiada bertepi
Seakan memenghisapku
Dalam kungkungan rasa tak karuan
Yang terikat di ulu hati
Tetes demi tetes air berjatuhan
Memberikan sedikit kesejukan pada jiwa yang resah ini
Memberikan kehangantan dalam setiap tetes yang terasa membekukan
Membiarkan dingin yang menusuk menjalari setiap inci tubuh
Mengalihkan rasa sakit di hati
Biar bibir ini membiru
Biar bahu ini gemetar
Tubuh takkan bergerak seinchi pun
Karna walau dingin ini membunuhku
Tetap ada rasa hangat menjalar
Dalam hati yang tak pernah lepas dari sepi
Biarkan tetes demi tetes air mengisi jiwa ini
Jiwa yang dibiarkan kosong dan berdebu
Jiwa yang entah kapan menjadi padu
Posted By: Unknown

Rain

Bagaimana Jika...

created by: symptoms26

Saat mulutmu enggan untuk mengatakan perasaanmu
Saat semua yang ada dipikiranmu selalu terkunci rapat
Enggan untuk keluar
Bahkan enggan untuk sekedar merubah ekspresi
Semuanya mendesak ingin keluar
Mengemis kebebasan yang tak kunjung datang
Tapi apa daya otak dan mulut ini tak bekerja
Dan dengan bengisnya mengatakan kebohongan
Menggores hati semua orang
Menghancurkan citra diri
Membiarkan kesalah pahaman mengekang
Haruskah kau melawan?
Membiarkan seluruh isi hatimu keluar
Membiarkannya bebas berkelana,
Dengan resiko membuat semua orang tahu
Semua orang melihat
Semua orang mendengar
Dan menjadikannya mainan?
Atau kau lebih memilih menyimpan semua perasaanmu sendiri
Menguncinya dengan rapat dibalik wajah dinginmu
Lalu membuat orang lain salah paham
Apa yang akan kau lakukan?
Follow Us

About Us

Advertisment

Like Us

© Pantalasa All rights reserved | Theme Designed by Blogger Templates